top of page

Poetry Dumps

Hidup dalam Bayang-bayang

Hidup dalam bayang-bayang Hidup dalam bayang- bayang Ambisi cukup tipis dan berlapis Harapan sejengkal, eksekusi dangkal Harapan utopis namun akhirnya ditepis Menyadarkan akal bahwa dunia tak kekal Hidup dengan jiwa separuh dalam— membayangkan bayangan itu Bayangan yang melayang Dulu hidup, kini redup Jiwa berasa tak bernyawa Tertawa kencang sembari bimbang Hidup yang se

Sekadar Mimpi Belaka

Entah ke mana diri ini berada Layaknya berjalan di ruang kegelapan Sunyi nan senyap itu ditemani sepi dan syahdu Tersesat buatku hilang tanpa arah Berdiam diri layaknya ingin pasrah “Tidak!” “Aku harus otodidak!” “Ting!”, “Ting!!” Ting-ting yang bukan kacang, namun suara kelonteng seakan memberi petunjuk keluar “Keluarlah dari keadaan tersesat ini” Monolog ini baru saja muncul, ternyata itu hanya bualan “Wah! Aku di mana ini?” Ternyata aku baru saja bangun dari kasur empuk

Teater Semesta

Teater Semesta— Panggung sejuta umat “Haus panggung?” “Lapar berekspresi?” Tanya singkat dari Semesta “Disini lah tempatnya!” Jawab singkat darinya Seketika optimis melaju kencang Tirai teater membuka mulutnya Semesta turut bersuka cita raya Lampu sorot panggung melangkah vertikal, horizontal, dan diagonal Sinar membakar kata redup dan gugup Menyinari lukisan raga yang puitis nan estetis Teater memberi ruang nafas tuk tampil teatrikal dan natural Santai dan lihai merangkai de

Rokok dan Miras

Bergulat dengan niat dan rasa penat Miras tak buatku selaras dan waras Sesap tembakau tak buatku sakau Rasa mengganjal berakhir rasa kesal Asap rokok mengaburkan isi kepala lalu mengajakku keluar dari realita pahit terkini Pedasnya cengkeh tak sepedas ucapan orang-orang di sana “Redakan masalahmu sekarang, sobat!” “sekarang, sobat!” “Cobalah, maka kau terlihat pria” Kucicipi dirimu hanya tuk bersosial Sebut saja diriku per

Menunda Jatah Gagal

Gulir ke atas Gulir ke bawah Geser ke kiri Geser ke kanan Begitulah jari-jemariku berseluncur pada dunia maya melalui genggaman pribadi Seribu tips sukses diberikan Seribu cara belajar efektif Seribu cara mengerti dan paham dalam waktu singkat Seribu cara apapun cukup buatku percaya apa yang kalian tawarkan Bagai meminum minuman manis, cukup singkat membasahi dahaga seribu masalah ini “Cukup berhenti di situ saja” Gumamku setelah berhenti berseluncur pada dunia maya “Jatah ga

Pulanglah Sejenak

Bukan seakan tak berujung, lebih tepatnya memang tak berujung Mendengar suara batin lebih banyak Melihat dinamika kehidupan beragam Merasakan dahaga kedamaian Mencium aroma persaingan ketat Meraba sentuhan masa sekarang Tak berujung karena terlalu peduli menjadi pahlawan kesiangan tuk peristiwa yang datang dini hari Mencoba tuk indra manusia ini sesekali tak terpakai lalu tersimpan dalam ruang hampa Tempa dahulu rasa sepi ini supaya menjadi hening Kujadikan dia teman masa kin

Long Life Learning

Long time I need to fix this — life and I should to do , not excuse learning by doing is a must Whether I-shaped or not Whether T-shaped or not Whether M-shaped or not Whether X-shaped or not Admired by them whom always — learn faster, learn longer, and learn better fix this life, should to do, and learning by doing Trapped by it, but — actually it’s not trapped Thirst for knowledge Hungry for achievement O! Long life learning! O! Long life learning! O! Long life learning

Berkamuflase

Pakailah topeng itu Jangan pernah lepaskan karena identitasmu tertinggal disitu, dan susah dilepas Pakailah jika bepergian Di luar sana, mereka juga pakai Pakailah dengan benar agar dapat diterima oleh mereka Pakailah agar diterima oleh lingkungan sosial Cerdaslah berkamuflase walaupun terdengar klise Sekali lepas, dirimu cemas Lama sembuh karena lama rapuh Menaruh harapan pada topeng yang menjadi identitasnya

Putih

Putih nan suci Tak terkontaminasi oleh warna lain Hampa dan kosong Sengaja mengasingkan diri ini yang terus butuh ruang, mencari-cari ketenangan, dan membayangkan apa itu damai Hidup tak selamanya putih Hidup juga tak selamanya hitam Ada abu-abu diantaranya Area rawan untuk terus ragu-ragu Dulu hitam, sekarang putih Begitu juga sebaliknya Membosankan dan tak berwarna untuk mereka yang lebih berwarna Dingin dan tak hangat memang terasa hambar Jebakan dalam dunia sendiri hingga

Monolog

Monolog, berbincang dengan diri sendiri berdialog secara internal bukan bersama orang lain bersuara dalam hati Berperang dengan pikiran Berkonsultasi dengan jiwa Berbincang menuju masa lalu Waktu diluangkan lebih banyak Layaknya ramai dalam persimpangan lalu lintas, monolog ini terkadang buta warna tak tahu warna merah, kuning, dan hijau tak tahu kapan harus berhenti, berhati-hati, dan saatnya berjalan Jika diberi kesempatan, bermonolog lah dengan semestinya Bersiagalah menuj

bottom of page