top of page

Poetry Dumps

Disetir Standar Sosial

Esensial melemah, estetika menguat Tak peduli apa itu esensi Bagi mereka hanyalah ilusi Buatlah se-estetis mungkin macam feeds instagram Membuatku geram Berlomba rekam hidup yang sinematik di tengah banyaknya hal problematik Disetir standar sosial Disetir standar sosial Disetir standar sosial Sementara mereka justru berdiam Menikmati syahdu bersendiri Melawan standar sosial tiada akhir Perlakukan estetika macam raja Keberadaannya memang diimpikan Perlakukan esensial macam bud

Papandayan

Papandayan 2.665 mdpl Tak terpikirkan namun terwujudkan Tanjakan demi tanjakan diraih Aklimatisasi pun dicoba Keadaan terus diraba Terkuras namun tak sepenuhnya Melangkah untuk menyadarinya Matahari terbit pun dirasakan Menangkap momen dengan foto Simulasi sedingin salju juga dirasakan Turun dari sana layaknya menurunkan ego Menuliskan kenangan pada pendakian pertama Membuka pintu hobi selanjutnya Menemukan kesenangan baru Berakhir dengan rasa haru

Penjara Stigma

Cukup batasi mobilitas untuk mereka yang mau naik kelas Cukup beri stigma agar tidak bisa naik ke atas Berilah stigma sekali lagi agar kesenjangan tetap terus ada Terpenjara oleh stigma Terkekang dan tak bisa bergerak Peliharalah kesenjangan Jangan beri ruang untuk berkembang Ada stigma, perlakuan diskriminatif Tak ada stigma, perlakuan istimewa Beri takar secukupnya Dunia memang tidak murah untuk diperlakukan istimewa

Setengah Dekade di Jember

2017-2022 Sudahi lima tahun perantauan Setengah dekade berada di sana Merasakan identitas ganda Lama sebagai warga Jogja Membaur bersama warga Jember Rajin pulang tiap semester Suasana tak lagi sama “Kuliah di mana sekarang?” Pertanyaan datang menghampiri “Kuliah di UNEJ” Balasan untuk pertanyaan itu “Orang Jogja berkuliah di luar Jogja” “Jauh-jauh kuliah di sana” “Oh Unjem ya” Begitulah reaksi mereka Untuk seseorang berkuliah di Kabupaten kecil Su

Sahabat di Jalanan

Begitulah diriku mengenalmu Ditemani oleh waktu Sudah berjalan sewindu Begitu berarti kehadiranmu Wahai dirimu Butuh dua tahun lagi Agar menjadi satu dekade Memang banyak kisah perjalanan Melewati pandangan indah juga kediaman warga sekitar dari jalanan itu Berkendara sendiri Memberi makna tersendiri Kelana tanpa rencana Muncul begitu saja Andai waktu dapat berhenti lalu atur ulang oleh kita lalu pergi ke masa lampau Akan kutelusuri di manapun temp

Puisi

Wadah berekspresi Berekspresi melalui kata-kata Media meracik kata dan rima Menampung semua majas Sastra pengungkap pikiran Keindahan majas di dalamnya menguatkan pesan terdalam Menonton tarian kata-kata Berdendang ria bersama diksi Menemukan teka-teki yang hilang Akhirnya mendapat jawaban Jatuh cintaku mendalam Mengapa aku baru mengenalmu pada waktu yang terduga Mengapa tidak semasa sekolah ataupun semasa kuliah Benang pikiran terlalu kusut Menumpuk jadi bola benang Kuucap s

Ruang

Sisakan ruang untuk bimbang Bimbang akan masa depan Sisakan ruang untuk bincang Bincang bersama penantian Tanpa ruang, jadilah terkekang Bergerak atau berhenti di tempat Bergerak atau berhenti di tempat Tanpa ruang, jadilah tak tenang Sisakan ruang untuk hengkang Hengkang dari ketidakpastian Sisakan ruang untuk terbang Terbang menuju impian Tanpa ruang, diri ini terguncang Bergerak atau berhenti di tempat Bergerak atau berhenti di tempat Tanpa ruang, mengurangi peluang Sisaka

Nasi Daun Jeruk

Wahai nasi daun jeruk Tahun lalu pertama kalinya mencicipi nasi daun jeruk Tak kusebutkan merknya Cukup terkenal dan ada cabangnya di Jakarta Sungguh nikmat untuk makan siang Memulai aktivitas siang hari Tercandu olehmu Beberapa kali mencicipinya Wahai nasi daun jeruk Mengapa kelezatanmu ini membuatku tercandu Lima kali dalam sembilan hari memesan untuk makan malam Bukti canduku padamu bersama lauk-pauk; jamur, tempe, ayam, & telur Teringat sebuah pertanyaan “Apa makanan kesu

Medioker

Bukan di atas maupun di bawah Cukup hanya di tengah Keadaan dinamis, prosedur statis Sedang naik namun kadang suka turun Terjebak pada...

bottom of page