Kemarau perasaan buatku risau Begitulah yang terlintas dariku— Perasaan yang tak peka cukup pekat, lumayan melekat, dan terasa dekat olehku Terkadang performatif, terkadang juga tidak Transaksi atensi tuk dapat validasi Pengamat sosial berlagak cermat Itulah masa kuliah yang lama kualami Lakukan saja dengan lantang dan lancang Masih saja menghamba dengan hukum rimba Sembah saja sumpah sampahmu— Sudahlah soba
Menunggu setahun menuju 5 abad Wahai Jakarta! Yang tak pernah sepi dari keramaian Warga menolak untuk tersungkur dan gugur tuk mewujudkan angan yang telah lama tersimpan LRT, MRT, Jaklingko, & Tije Banyak transportasi umum untuk kebutuhan bersama Senang berkeliling menikmati jalanan yang ramai Suara gaduh dan riuh mengisi tumpukan memori dalam kepala Bising keramaian selalu hadir Ramai di jalanan juga ramai di pikiran Berangkat bersama beban yang bersandar di bahu Terkadang
Hidup dalam bayang-bayang Hidup dalam bayang- bayang Ambisi cukup tipis dan berlapis Harapan sejengkal, eksekusi dangkal Harapan utopis namun akhirnya ditepis Menyadarkan akal bahwa dunia tak kekal Hidup dengan jiwa separuh dalam— membayangkan bayangan itu Bayangan yang melayang Dulu hidup, kini redup Jiwa berasa tak bernyawa Tertawa kencang sembari bimbang Hidup yang se
Entah ke mana diri ini berada Layaknya berjalan di ruang kegelapan Sunyi nan senyap itu ditemani sepi dan syahdu Tersesat buatku hilang tanpa arah Berdiam diri layaknya ingin pasrah “Tidak!” “Aku harus otodidak!” “Ting!”, “Ting!!” Ting-ting yang bukan kacang, namun suara kelonteng seakan memberi petunjuk keluar “Keluarlah dari keadaan tersesat ini” Monolog ini baru saja muncul, ternyata itu hanya bualan “Wah! Aku di mana ini?” Ternyata aku baru saja bangun dari kasur empuk
Teater Semesta— Panggung sejuta umat “Haus panggung?” “Lapar berekspresi?” Tanya singkat dari Semesta “Disini lah tempatnya!” Jawab singkat darinya Seketika optimis melaju kencang Tirai teater membuka mulutnya Semesta turut bersuka cita raya Lampu sorot panggung melangkah vertikal, horizontal, dan diagonal Sinar membakar kata redup dan gugup Menyinari lukisan raga yang puitis nan estetis Teater memberi ruang nafas tuk tampil teatrikal dan natural Santai dan lihai merangkai de