Hidup dalam bayang-bayang Hidup dalam bayang- bayang Ambisi cukup tipis dan berlapis Harapan sejengkal, eksekusi dangkal Harapan utopis namun akhirnya ditepis Menyadarkan akal bahwa dunia tak kekal Hidup dengan jiwa separuh dalam— membayangkan bayangan itu Bayangan yang melayang Dulu hidup, kini redup Jiwa berasa tak bernyawa Tertawa kencang sembari bimbang Hidup yang se
Entah ke mana diri ini berada Layaknya berjalan di ruang kegelapan Sunyi nan senyap itu ditemani sepi dan syahdu Tersesat buatku hilang tanpa arah Berdiam diri layaknya ingin pasrah “Tidak!” “Aku harus otodidak!” “Ting!”, “Ting!!” Ting-ting yang bukan kacang, namun suara kelonteng seakan memberi petunjuk keluar “Keluarlah dari keadaan tersesat ini” Monolog ini baru saja muncul, ternyata itu hanya bualan “Wah! Aku di mana ini?” Ternyata aku baru saja bangun dari kasur empuk
Teater Semesta— Panggung sejuta umat “Haus panggung?” “Lapar berekspresi?” Tanya singkat dari Semesta “Disini lah tempatnya!” Jawab singkat darinya Seketika optimis melaju kencang Tirai teater membuka mulutnya Semesta turut bersuka cita raya Lampu sorot panggung melangkah vertikal, horizontal, dan diagonal Sinar membakar kata redup dan gugup Menyinari lukisan raga yang puitis nan estetis Teater memberi ruang nafas tuk tampil teatrikal dan natural Santai dan lihai merangkai de
Bergulat dengan niat dan rasa penat Miras tak buatku selaras dan waras Sesap tembakau tak buatku sakau Rasa mengganjal berakhir rasa kesal Asap rokok mengaburkan isi kepala lalu mengajakku keluar dari realita pahit terkini Pedasnya cengkeh tak sepedas ucapan orang-orang di sana “Redakan masalahmu sekarang, sobat!” “sekarang, sobat!” “Cobalah, maka kau terlihat pria” Kucicipi dirimu hanya tuk bersosial Sebut saja diriku per
Gulir ke atas Gulir ke bawah Geser ke kiri Geser ke kanan Begitulah jari-jemariku berseluncur pada dunia maya melalui genggaman pribadi Seribu tips sukses diberikan Seribu cara belajar efektif Seribu cara mengerti dan paham dalam waktu singkat Seribu cara apapun cukup buatku percaya apa yang kalian tawarkan Bagai meminum minuman manis, cukup singkat membasahi dahaga seribu masalah ini “Cukup berhenti di situ saja” Gumamku setelah berhenti berseluncur pada dunia maya “Jatah ga